Akhlak

Belajar dan Berlatih Sikap Ihsan

Ihsan adalah kita berbuat (beribadah, berbuat baik, bekerja) seolah-olah Allah melihat dan mengawasi kita, dan jika kita tidak merasa dilihat Allah, ketauilah Allah sedang melihat kita.

Berbuat Ihsan adalah menjadikan Allah sebagai tolok ukur perbuatan. Kita berbuat baik ke orang lain tidak melihat bagaimana perlakuan orang ke kita, tetapi bagaimana Allah memperlakukan kita, bagaimana Allah berbuat baik pada kita, bagaimana Allah terus memberikan kita karunia walau kita banyak berbuat dosa, dst.

Sehingga kita tidak membesarkan diri kita, perasaan kita, sampai termasuk (pengakuan) nama baik kita…tetapi membesarkan Allah.

Tetap berbuatlah baik kepada orang yang berbuat buruk selama tidak melanggar hukum syar’i. Dan jangan berbuat buruk pada orang yang berbuat baik.

Ihsan memiliki satu rukun yaitu engkau beribadah kepada Allah Azza wa Jalla seakan-akan engkau melihat-Nya, jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari ‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu dalam kisah jawaban Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Jibril Alaihissallam ketika ia bertanya tentang ihsan, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ.

“Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, maka bila engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Allah melihatmu.”

Tidak ragu lagi, bahwa makna ihsan secara bahasa adalah memperbaiki amal dan menekuninya, serta mengikhlaskannya. Sedangkan menurut syari’at, pengertian ihsan sebagaimana penjelasan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ.

“Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, maka jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Allah melihatmu.”

Maksudnya, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan ihsan dengan memperbaiki lahir dan batin, serta menghadirkan kedekatan Allah Azza wa Jalla, yaitu bahwasanya seakan-akan Allah berada di hadapannya dan ia melihat-Nya, dan hal itu akan mengandung konsekuensi rasa takut, cemas, juga pengagungan kepada Allah Azza wa Jalla, serta mengikhlaskan ibadah kepada Allah Azza wa Jalla dengan memperbaikinya dan mencurahkan segenap kemampuan untuk melengkapi dan menyempurnakannya.

[Disalin dari buku Prinsip Dasar Islam Menutut Al-Qur’an dan As-Sunnah yang Shahih, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa Po Box 264 Bogor 16001, Cetakan ke 3]

Berdoalah minta perlindungan kepada Allah dari rasa was-was, prasangka buruk, mendzalimi ataupun didzalimi, serta dari segala kejahatan setan dan kejahatan hawa nafsu sendiri. Wa’allahu alam bishowab.

Referensi:

Kajian Akhlak Ustadz Arifin Jayadiningrat

https://almanhaj.or.id/3192-pengertian-islam-dan-tingkatannya.html

https://almanhaj.or.id/2972-syarah-hadits-jibril-tentang-islam-iman-dan-ihsan-2.html

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s